
- 0
- 490 words
Koltim, Nuansa Sultra – Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) tengah menjadi perhatian publik menyusul dinamika politik terkait penentuan figur calon Wakil Bupati yang akan mendampingi Plt Bupati, Yosep Sahaka. Sejumlah nama dari partai pengusung mulai diperbincangkan sebagai kandidat potensial untuk mengisi kursi “02” pada pemerintahan daerah Koltim.
Saat ditemui awak media Nuansa Sultra di kediamannya, Jumat malam (29/05/2026), tokoh pemuda Koltim, Taufik Sungkono, menyampaikan pandangannya terkait figur yang dinilai layak mendampingi Yosep Sahaka dalam menjalankan roda pemerintahan di Koltim.
Menurut Taufik, sosok Wakil Bupati yang ideal harus memiliki integritas, komitmen membangun daerah, serta keberpihakan terhadap pemberdayaan masyarakat lokal. Ia menilai kepemimpinan daerah membutuhkan figur yang mampu bekerja secara serius demi kemajuan Koltimdan kesejahteraan masyarakatnya.
“Tentunya figur yang layak adalah mereka yang memiliki integritas dan komitmen kuat untuk membangun daerah serta memberdayakan anak daerah,” ujar Taufik yang juga merupakan salah satu Pengacara Muda dalam wawancaranya.
Terkait komposisi partai pengusung, diketahui Partai NasDem memiliki delapan kursi di DPRD Koltim, sementara Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki dua kursi.
Selain itu, terdapat pula Partai Bulan Bintang (PBB) yang sebelumnya menjadi partai pengusung meski pada periode ini tidak memiliki kursi di DPRD. Menanggapi hal tersebut, Taufik memilih tidak terlalu jauh mengomentari kewenangan partai dalam mengusulkan calon wakil bupati.
“Terkait PBB, saya tidak bisa banyak mengomentari karena itu merupakan ranah internal partai. Biarlah para ketua partai yang menjelaskan mekanismenya,” katanya.
Lebih lanjut, Taufik menilai Yosep Sahaka merupakan representasi putra daerah yang menjadi harapan masyarakat Koltim. Ia juga menyebut sejumlah nama dari partai pengusung yang dinilai memiliki peluang apabila diberi kesempatan untuk berkontestasi.
Dari NasDem, terdapat nama Ketua DPD Hartini, Ketua DPRD Jumhani, Ali Topan, dan Irwansyah. Sementara dari PAN muncul nama Risman Kadir, Rahmatia, serta Andi Musmal.
Menurutnya, seluruh figur tersebut memiliki peluang yang sama karena dianggap mampu mewakili kepentingan masyarakat lokal. Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan representasi suku dalam kepemimpinan daerah.
Taufik menilai keberagaman etnis seperti Jawa, Bali, Toraja, Bugis, hingga Muna dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan figur wakil bupati demi memperkuat persatuan dan warna keberagaman di Koltim
Meski demikian, Taufik menegaskan bahwa idealnya calon wakil bupati berasal dari putra daerah yang memiliki komitmen nyata terhadap pembangunan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Namun, ia mengakui bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan partai politik, khususnya pada tingkat DPP sebagai penentu yang mengeluarkan rekom terkait siapa yang akan di usungnya.
Menurut taufik, pengalaman dalam sejumlah kontestasi politik menunjukkan bahwa rekomendasi partai tidak selalu mengikuti usulan dari tingkat daerah. Karena itu, dinamika politik di Koltim saat ini dinilai sangat terbuka dan terus berkembang, seiring adanya komunikasi serta manuver politik dari sejumlah elite dalam menyusun skema pemilihan Wakil Bupati Koltim ke depan.
Kedepan siapapun yang akan terpilih menjadi Wakil Bupati maka itulah bagian dari pilihan rakyat karna sejatinya rakyatlah yang memilih para perwakilanya yang duduk hari ini di kursi DPR/DPRD, sehingga suara rakyat di wakili oleh Perwakilan Rakyat. Dan kedepan sangat berpotensi untuk menuju kursi nomer 1 di koltim dalam kontestasi pilkada di tahun 2031 jika dimanfatkan dengan baik peluang tersebut.
Penulis : Asrianto Daranga