KOLTIM, NUANSA SULTRA – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kolaka Timur, dr. Munir, mengungkapkan kepada media nuansasultra.com bahwa saat ini rumah sakit yang dipimpinnya tengah mengalami kekurangan tenaga perawat, khususnya di unit-unit perawatan intensif. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah dokter spesialis yang masuk, termasuk dokter spesialis anestesi yang memperluas cakupan pelayanan pasien di ruang ICU ( Intensive Care Unit), PICU (Pediatric Intensive Care Unit), dan NICU (Neonatal Intensive Care Unit).

 

“Ruang-ruang tersebut selalu penuh, sementara perawat yang tersedia masih belum mencukupi untuk memberikan perawatan intensif yang dibutuhkan pasien,” ujarnya pada Jum’at (20/06/2025)

 

Menurut dr. Munir, ruangan seperti ICU, PICU, dan NICU adalah unit layanan kesehatan dengan kebutuhan perawatan total dan intensif. Pasien di ruangan ini memerlukan pengawasan dan tindakan medis yang berkesinambungan dan mendalam, sehingga kehadiran tenaga perawat yang kompeten dan dalam jumlah memadai sangat penting. Tanpa jumlah perawat yang memadai, kualitas pelayanan rawat intensif dapat terganggu dan berdampak pada keselamatan pasien.

 

Sebagai langkah awal, manajemen rumah sakit telah melakukan rotasi internal terhadap tenaga keperawatan. Beberapa perawat dari unit-unit lain yang dinilai memungkinkan, dialihkan ke unit perawatan intensif. Selain itu, RSUD Kolaka Timur juga mengupayakan permintaan bantuan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten, khususnya dari puskesmas-puskesmas yang memiliki kelebihan tenaga perawat atau yang memiliki personel yang bersedia dan memiliki minat melayani di rumah sakit.

 

Menanggapi isu keterlambatan pembayaran honorarium tenaga kesehatan, dr. Munir menegaskan bahwa RSUD Kolaka Timur masih tergolong tepat waktu dibandingkan beberapa daerah lain.

 

“Kami upayakan pembayaran dilakukan setiap minggu kedua di bulan berikutnya. Kalaupun ada keterlambatan, biasanya hanya dua hingga tiga minggu, tetapi tidak pernah melewati bulan berikutnya,” jelasnya.

 

Ia juga menambahkan bahwa di beberapa daerah bahkan terjadi penundaan hingga enam hingga delapan bulan, yang menyebabkan mogok kerja, namun hal itu tidak terjadi di Kolaka Timur.

 

Terkait proses administrasi, dr. Munir mengakui bahwa keterlambatan pembayaran lebih sering disebabkan oleh kendala dokumen yang harus dipenuhi sesuai prosedur. Pihak rumah sakit terus mengajukan usulan ke Badan Keuangan Daerah untuk mempercepat proses pencairan. Ia berharap bahwa usulan yang menyangkut pelayanan publik, terutama di bidang kesehatan, bisa lebih diprioritaskan agar tidak mengganggu kinerja dan motivasi tenaga kesehatan.

 

Meski dihadapkan pada keterbatasan, dr. Munir memastikan bahwa pelayanan kepada pasien tetap berjalan maksimal. Ia mengapresiasi dedikasi para tenaga medis, terutama perawat yang harus menjalani jam kerja panjang, bahkan hingga 12 jam dalam satu shift jaga.

 

“Ada yang seharusnya bertugas 8 jam, namun karena kekurangan personel, mereka harus lembur. Ini menunjukkan komitmen tinggi para tenaga kesehatan dalam melayani pasien,” tuturnya.

 

Langkah meminta tambahan tenaga ini juga dipandang sebagai persiapan jangka panjang untuk operasional rumah di sakit baru. Menurut dr. Munir, perekrutan dan penambahan tenaga dilakukan secara bertahap agar ketika rumah sakit baru resmi beroperasi, tidak terjadi kekosongan mendadak karena banyaknya ketidaksesuaian rasio nakes dan jumlah bed.

 

Di akhir wawancara, dr. Munir menyampaikan harapannya agar semua tenaga kesehatan dapat bekerja dengan semangat empati tinggi dan selalu memprioritaskan kebutuhan pasien.

 

“Kami dari sisi manajemen tentu akan terus mendukung segala upaya perbaikan layanan, demi tercapainya pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan memuaskan masyarakat,” pungkasnya.

 

Penulis : Asrianto Daranga

Author

nuansasultra@gmail.com

Related Posts

Jangan Terjebak Dikotomi Teknokrat dan Non-Teknokrat : Saatnya Bicara Kompetensi, Bukan Latar Belakang

Oleh : H. Fajar Meronda, S.E., M.T  (Angkatan Muda Sulawesi Tenggara)   Nuansa Sultra – Wacana pergantian Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi...

Read out all

Midul Makati Nilai Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis Adrie Yunus sebagai Ancaman bagi Demokrasi

Jakarta, Nuansa Sultra – Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP-GPI) mengutuk keras tindakan penyiraman air keras yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang...

Read out all

JPKPN Layangkan Sanggahan Keras ke BWS Sulawesi IV, Soroti Dugaan “Poles Permukaan” Proyek Irigasi Trimulya

Kendari, Nuansa Sultra – Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan Nasional (JPKPN), Woroagi Agima, secara resmi menyampaikan surat sanggahan terhadap tanggapan Balai Wilayah Sungai...

Read out all

Ketua BK DPRD Koltim I Made Margi Tegaskan Status Husain Tanggapili Masih Dikaji Sesuai Tata Tertib

Koltim, Nuansa Sultra – Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Kolaka Timur, I Made Margi, menegaskan bahwa pihaknya masih mengkaji status anggota DPRD,...

Read out all

JPKPN dan GSPI Sultra Dukung PPI Usut Dugaan Kongkalikong Limbah di Morosi hingga ke DPRD Konawe

Konawe, Nuansa Sultra – Dukungan terhadap upaya pengungkapan dugaan praktik bisnis limbah ilegal di kawasan industri Morosi, Kabupaten Konawe, terus menguat. Terbaru,...

Read out all

Proyek Rehabilitasi Irigasi Tersendat, Petani Empat Desa di Poli-Polia Terancam Gagal Tanam dan Kesulitan Bayar KUR.

Koltim, Nuansa Sultra – Beberapa bulan lalu, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Andowengga menggelar musyawarah bersama pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan masyarakat guna...

Read out all