
Kolaka, Nuansa Sultra – SMK Negeri 11 Kolaka mengikuti kegiatan Deklarasi Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Wira Kabupaten Kolaka Tahun 2026 yang berlangsung pada 7 hingga 20 Mei 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari pengembangan organisasi kesiswaan sekaligus upaya meningkatkan pembinaan karakter dan kepedulian sosial peserta didik di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, SMKN 11 Kolaka mengirimkan sebanyak 22 peserta yang terdiri atas 18 siswa peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) serta empat orang pendamping. Tiga guru yang mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung yakni Nasrun, S.Pd., Bahar, S.Pd., dan Dila Adelia Savitri, S.Pd.
Kegiatan PMR dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa, terutama dalam meningkatkan kepedulian sosial, jiwa kemanusiaan, serta kemampuan pelayanan kesehatan dasar di lingkungan sekolah. Selain itu, siswa juga dibekali keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menghadapi kondisi darurat.
Kepala SMKN 11 Kolaka, Fausina Sulaeman, S.T., saat ditemui awak media menyampaikan bahwa pihak sekolah menaruh harapan besar terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan PMR dapat menjadi sarana pengembangan diri siswa agar lebih aktif, mandiri, dan mampu berkontribusi positif di tengah masyarakat.
“Kami berharap para peserta memiliki jiwa kemanusiaan dan empati, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, rasa percaya diri, serta mampu menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Fausina.
Ia menambahkan, sekolah juga berharap para siswa memperoleh peningkatan kompetensi teknis atau hard skills, seperti keterampilan pertolongan pertama (P3K), kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta penerapan pola hidup sehat. Kemampuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi siswa dalam membantu sesama, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Lebih lanjut, pihak sekolah berharap hasil dari kegiatan Deklarasi PMR dapat memberikan dampak positif secara berkelanjutan. PMR diharapkan mampu menjadi mitra efektif Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dalam menangani situasi darurat, seperti saat siswa mengalami pingsan ketika upacara atau kegiatan olahraga.
Selain itu, kegiatan ini juga dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi muda yang tanggap, peduli, dan memiliki semangat pengabdian sosial.
Laporan : Misro Mayadi