
- 0
- 579 words
Kendari, Nuansa Sultra – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kolaka Timur (Koltim), H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd., menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi Peternakan (INTEK) III Tahun 2026 di Swiss belhotel Kendari, Sabtu (01/08/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan Oleh Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo (UHO) bekerja sama dengan FPPTPI tersebut mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan sektor peternakan melalui inovasi dan teknologi.
Dalam seminar tersebut, Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., IPU, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan hilirisasi sektor peternakan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Menurut Nasrullah, hilirisasi merupakan bagian penting dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya membangun sistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Hilirisasi menjadi sebuah keharusan, karena melalui hilirisasi produk peternakan memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini banyak komoditas peternakan dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai ekonominya masih rendah. Melalui proses pengolahan menjadi daging potong, sosis, susu olahan, maupun produk turunan lainnya, biaya distribusi dapat ditekan sekaligus meningkatkan keuntungan bagi peternak dan pelaku usaha.
Nasrullah mencontohkan pengiriman sapi hidup memerlukan biaya logistik yang besar serta berisiko mengalami penyusutan bobot maupun kematian selama perjalanan. Sebaliknya, apabila diolah menjadi produk siap edar, distribusi menjadi lebih efisien dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh bagian komoditas peternakan, baik sapi maupun ayam, memiliki potensi ekonomi apabila diolah melalui teknologi hilirisasi sehingga tidak ada bagian yang terbuang.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Pertanian mulai menjalankan proyek percontohan hilirisasi komoditas ayam, telur, dan sapi perah yang terintegrasi dalam satu kawasan produksi. Program tersebut mencakup pembibitan, pabrik pakan, peternakan, rumah potong, hingga industri pengolahan.
“Tahun ini program dimulai di empat provinsi, yakni Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo, dengan pusat pembibitan berada di Jawa Timur,” jelasnya.
Nasrullah mengakui Sulawesi Tenggara belum termasuk dalam tahap awal pelaksanaan program tersebut. Namun, pemerintah akan melakukan pengembangan secara bertahap sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing daerah agar produksi tetap seimbang dengan kebutuhan pasar.
Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu nasional. Saat ini produksi susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sedangkan produksi daging sapi berkisar 40 hingga 50 persen dari total kebutuhan.
Karena itu, pemerintah terus membuka peluang investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat industri peternakan nasional mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil.
Sementara itu, Plt. Bupati Koltim, Yosep Sahaka, mengatakan kehadirannya dalam Munas FPPTPI dan Seminar INTEK III merupakan bentuk dukungan Pemerintah Daerah Koltim terhadap pengembangan sektor peternakan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
Menurut Yosep, forum nasional tersebut menjadi wadah strategis bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan para pelaku usaha untuk bertukar gagasan dalam memperkuat hilirisasi peternakan sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan peternak.
“Kehadiran pemerintah daerah dalam forum ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami berharap sinergi ini mampu mendorong inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mempercepat pembangunan sektor peternakan yang berkelanjutan, khususnya di Kabupaten Kolaka Timur,” ujar Yosep.
Ia menambahkan, hasil pembahasan dalam Munas FPPTPI dan Seminar INTEK III diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengembangan peternakan yang lebih modern, produktif, dan berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Penulis : Asrianto Daranga.