
Nuansa Sultra – Pengumuman resmi mengenai awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai bergulir di seluruh dunia seiring hasil pemantauan hilal dan perhitungan astronomi di berbagai wilayah. Mayoritas negara di Asia Tenggara, Australia, hingga Timur Tengah mengonfirmasi bahwa Kamis, 19 Feb. 2026, menjadi hari pertama ibadah puasa. Penetapan tersebut didasarkan pada rukyatul hilal dan hisab yang dilakukan otoritas keagamaan masing-masing negara guna memastikan keseragaman awal Ramadhan.
Meskipun sebagian besar negara memulai puasa pada Kamis, sejumlah wilayah di Timur Tengah dan Eropa menetapkan awal Ramadan lebih cepat, yakni Rabu, 18 Feb. 2026. Negara yang telah memulai lebih awal antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Perbedaan ini terjadi karena variasi hasil rukyat dan kriteria penetapan hilal yang digunakan masing-masing otoritas.
Salah satu ibadah khas yang hanya dapat dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah salat Tarawih. Otoritas Arab Saudi memastikan format pelaksanaan salat Tarawih selama Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi di dua masjid suci umat Islam, yaitu Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi. Kepastian ini menjadi rujukan penting bagi jutaan umat Islam yang menantikan suasana ibadah di Tanah Suci.
Dalam keterangan resmi General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques yang dikutip dari Mina Bulletin, Rabu (18/2/2026), disebutkan bahwa salat Tarawih akan dilaksanakan sebanyak 10 rakaat di kedua masjid tersebut. Setelah Tarawih, jemaah akan melanjutkan dengan tiga rakaat salat Witir. Susunan ini menegaskan pola ibadah malam yang telah lama diterapkan secara konsisten.
Dengan komposisi tersebut, rangkaian salat malam Ramadhan diakhiri dengan lima kali salam (taslim) sebelum ditutup salam akhir pada salat Witir. Skema ini dinilai mempertahankan praktik yang paling umum dan stabil di dua masjid suci. Konsistensi format pelaksanaan diharapkan memberikan kenyamanan dan kekhusyukan bagi jemaah dari berbagai negara.
Otoritas juga menegaskan bahwa pelaksanaan Tarawih dari Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi akan disiarkan secara global seperti tahun-tahun sebelumnya. Siaran langsung ini memungkinkan umat Islam di berbagai belahan dunia mengikuti suasana ibadah Ramadan dari Makkah dan Madinah secara real time. Fasilitas tersebut menjadi sarana spiritual bagi mereka yang belum berkesempatan hadir secara fisik di Tanah Suci.
Sementara itu, jadwal lengkap pelaksanaan salat, termasuk waktu rinci dan daftar imam yang akan memimpin Tarawih, biasanya diumumkan mendekati awal Ramadan. Informasi ini menjadi perhatian umat Islam dunia, khususnya jemaah umrah serta masyarakat yang menantikan nuansa ibadah Ramadhan dari Makkah dan Madinah. Dengan kepastian jadwal dan tata pelaksanaan, umat diharapkan dapat mempersiapkan diri menyambut bulan suci secara lebih terarah dan khusyuk.
(AD/EM) *