Nuansa Sultra – Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang semakin dinamis, masyarakat adat dituntut untuk mampu mempertahankan identitas, budaya, serta nilai-nilai luhur warisan leluhur. Berangkat dari semangat tersebut, lahirlah Bawaa Pobende Sarano Tolaki (Banderano Tolaki), sebuah organisasi adat yang kini dikenal sebagai salah satu pelopor organisasi adat modern masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara.

Banderano Tolaki resmi dideklarasikan pada 11 Juli 2014 di Kota Kendari atas prakarsa Hedianto Ismail bersama sejumlah tokoh adat, akademisi, dan pemuda Tolaki. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah untuk menjaga marwah adat, melestarikan budaya, serta memperkuat persatuan masyarakat Tolaki dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.

Berbeda dengan organisasi adat pada umumnya yang lebih berfokus pada kegiatan seremonial, Banderano Tolaki mengembangkan peran yang lebih luas. Selain bergerak dalam pelestarian adat dan budaya, organisasi ini juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, advokasi masyarakat adat, serta penguatan solidaritas dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Filosofi Laskar Pelindung Adat

Secara filosofis, nama Bawaa Pobende Sarano Tolaki berarti Laskar Pelindung Adat Tolaki.” 

Kata Bawaa bermakna pasukan atau laskar, Pobende berarti menjaga dan melindungi, sedangkan Sarano Tolaki merujuk pada adat, budaya, nilai, dan norma masyarakat Tolaki. 

Makna tersebut mencerminkan komitmen organisasi untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kehormatan, budaya, dan kepentingan masyarakat Tolaki. Filosofi ini kemudian melahirkan identitas Banderano Tolaki sebagai simbol persatuan, keberanian, loyalitas, dan pengabdian kepada masyarakat adat.

Terinspirasi Semangat Perjuangan Leluhur

Dalam membangun karakter organisasinya, Banderano Tolaki mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan, solidaritas, dan pengabdian yang terinspirasi dari semangat perjuangan Pasoekan Djihad Konawe (PDK), sebuah organisasi perjuangan masyarakat Konawe yang memiliki peran penting dalam sejarah persatuan dan pertahanan masyarakat Tolaki. 

Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui sistem kaderisasi yang menekankan kepemimpinan, disiplin, loyalitas, serta pengabdian kepada masyarakat.

Aktif dalam Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan

Selama lebih dari satu dekade berdiri, Banderano Tolaki tidak hanya dikenal sebagai organisasi pelestari adat, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. 

Kader-kader organisasi ini kerap terlibat dalam penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak bencana alam, seperti banjir dan kebakaran, serta berbagai aksi sosial lainnya. 

Bagi Banderano Tolaki, menjaga marwah adat tidak hanya diwujudkan melalui pelestarian budaya, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Mendapat Pengakuan dari Komunitas Adat

Komitmen organisasi dalam mengawal kepentingan masyarakat adat mendapat apresiasi dari berbagai komunitas adat di Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Sebagai pendiri sekaligus Ponggawa Aha Banderano Tolaki, Hedianto Ismail menerima gelar adat dari Komunitas Adat Wonua Ndinudu Meluhu, yaitu “Langgai Tonggi Sura, Tadu Bilangari.” 

Gelar tersebut memiliki makna filosofis sebagai seorang panglima yang mampu melihat, membaca, dan memahami situasi secara bijaksana sebelum mengambil keputusan. 

Penghargaan itu menjadi bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam menjaga adat, budaya, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat Tolaki.

Menjadi Referensi Organisasi Adat Modern

Memasuki usia ke-12 tahun pada 2026, Banderano Tolaki telah memiliki jaringan kader yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara. Keberadaannya dinilai menjadi salah satu referensi bagi lahirnya berbagai organisasi adat pada periode berikutnya. 

Dengan sistem kaderisasi yang terstruktur, disiplin organisasi yang kuat, serta keterlibatan aktif dalam isu sosial dan adat, Banderano Tolaki terus berkembang sebagai organisasi adat modern yang berpengaruh. 

Hingga kini, organisasi tersebut tetap berkomitmen menjaga marwah Suku Tolaki, melestarikan warisan budaya leluhur, serta memperkuat persatuan masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

 

Kategori : Sosial Budaya

Subkategori : Komunitas Adat | Sejarah Organisasi | Budaya Tolaki

Penulis : Hedianto Ismail

Editor : nuansasultra.com

Author

nuansasultra@gmail.com

Related Posts

Bupati DPD LSM LIRA Koltim Desak Kejari Kolaka Tuntaskan Dugaan Korupsi Kades Peatoa

Koltim, Nuansa Sultra – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kolaka...

Read out all

Ketua Umum PJI Hartanto Boechori Respons Kelakuan Hotman Paris

DEGRADASI VERBAL TERHADAP MARWAH PROFESI JURNALIS DAN MANUVER ABUSE OF INFLUENCE OLEH OKNUM ADVOKAT HOTMAN PARIS HUTAPEA   Penulis : Hartanto Boechori...

Read out all

Ketum PJI Hartanto Boechori : Ucapan Hotman Paris kepada Jurnalis Tak Bisa Ditoleransi, Dugaan Abuse of Influence Harus Diusut

Jakarta, Nuansa Sultra – Ketua Umum Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI), Hartanto Boechori, mengecam keras pernyataan advokat Hotman Paris Hutapea yang dinilai merendahkan...

Read out all

Adin Gopal Desak DPRD Konawe Tindaklanjuti Delapan Dugaan Persoalan Tata Kelola Pemerintahan YA-SYAM

Konawe, Nuansa Sultra – Konsorsium Aktivis dan NGO Konawe menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kabupaten Konawe, Kamis (16/7/2026), sebagai...

Read out all

Rumah Warga di Dangia Kolaka Timur Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp100 Juta

Koltim, Nuansa Sultra – Sebuah rumah milik warga di Dusun IV, Desa Lalongkateba, Kecamatan Dangia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra),...

Read out all

Dua Puskesmas di Koltim Masih Tanpa Dokter Definitif, Dinkes : Tahun Ini Akan Diisi Dokter Program TUGSUS

Koltim, Nuansa Sultra – Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) mengungkapkan penyebab belum terisinya dokter definitif di Puskesmas Sanggona dan Puskesmas Aere....

Read out all