
- 0
- 479 words
Koltim, Nuansa Sultra – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kolaka Timur (Koltim), H. Yosep Sahaka, S.Pd., M.Pd., mengukuhkan pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) cabang dari 12 kecamatan se-Koltim untuk masa bakti 2025–2030.
Pengukuhan yang dipimpin Yosep sahaka selaku Ketua PGRI Koltim tersebut berlangsung di Aula Baros Farms House, Desa Tawainalu, Kecamatan Tirawuta, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Bangkit Guruku, Maju Negeriku, Indonesia Tangguh, Indonesia Maju”.
Pengukuhan tersebut menjadi momen untuk memperkuat soliditas organisasi, meningkatkan profesionalisme guru, serta mendorong peningkatan mutu pendidikan di Koltim.
Sejumlah pejabat dan pengurus PGRI turut hadir, di antaranya Sekretaris Daerah Koltim sekaligus Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rismanto Runda, S.Sos., M.M., Wakil Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tenggara, I Wayan Sarda, S.Pd., M.Pd., serta Asisten III Setda Koltim, Irwan Kara, S.Sos., M.M.
Dalam sambutannya, Yosep menegaskan bahwa pengukuhan pengurus bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan awal dari tanggung jawab dan komitmen bersama untuk membangun PGRI yang kuat, solid, dan bermartabat.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada ketua, tetapi juga membutuhkan partisipasi, kekompakan, dan kontribusi seluruh pengurus serta anggota.
Ia mengajak jajaran PGRI di setiap kecamatan untuk memperkuat persatuan, menjalankan tugas secara profesional, dan berkolaborasi dalam memajukan pendidikan.
Yosep juga menekankan bahwa PGRI harus menjadi rumah bersama bagi guru dan tenaga kependidikan. Organisasi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk saling belajar, memperkuat solidaritas, serta memperjuangkan aspirasi dan kepentingan profesi secara bertanggung jawab.
Ia meminta pengurus yang baru dikukuhkan agar responsif terhadap kebutuhan anggota, mendengarkan aspirasi guru, serta menyampaikan dan memperjuangkannya melalui mekanisme organisasi dan peraturan yang berlaku.
Yosep turut mengingatkan pentingnya membangun budaya organisasi yang terbuka dan demokratis. Perbedaan status kepegawaian, jenjang pendidikan, usia, pengalaman, maupun latar belakang tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu.
Sebaliknya, perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, bekerja bersama untuk pendidikan yang lebih baik,” ujar Yosep.
Sementara itu, Wakil Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tenggara, I Wayan Sarda, berharap pengurus PGRI Koltim menjalankan amanah dengan integritas, menjaga silaturahmi antaranggota, dan mempertahankan marwah organisasi.
Ia menekankan bahwa PGRI harus menjadi penggerak yang membangkitkan semangat guru dalam menjalankan tugas serta meningkatkan kualitas pendidikan dan mencerdaskan generasi bangsa.
I Wayan juga mendorong PGRI memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, agar program organisasi dapat berjalan selaras dengan kebijakan pendidikan daerah.
Menurutnya, PGRI di tingkat provinsi berperan mengayomi anggota dan memfasilitasi koordinasi dengan pemerintah daerah maupun Pengurus Besar (PB) PGRI untuk mencari solusi atas persoalan yang berkaitan dengan kesejahteraan dan perlindungan guru.
Ia turut menyinggung pentingnya perlindungan hukum bagi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya, termasuk melalui koordinasi sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
“Untuk perlindungan guru, sudah ada MoU bersama Kapolri terkait penanganan, Khususnya guru” Jelas I Wayan
Dengan pengukuhan tersebut, 12 pengurus PGRI cabang Koltim masa bakti 2025–2030 diharapkan mampu memperkuat persatuan tenaga pendidik, memperjuangkan aspirasi anggota, dan membangun kerja sama dengan pemerintah daerah demi peningkatan mutu pendidikan.
Penulis : Asrianto Daranga