Oleh: H. Fajar Meronda, SE, MT
(Angkatan Muda Sulawesi Tenggara)
Nuansa Sultra – Perbedaan pandangan di antara elite daerah merupakan realitas yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi. Dalam batas tertentu, perbedaan tersebut justru menjadi penanda sehatnya dinamika politik. Namun, ketika perbedaan itu terbaca publik sebagai jarak emosional atau bahkan rivalitas simbolik, maka kewaspadaan bersama perlu dibangun sejak dini.
Sejarah sosial dan politik di berbagai daerah menunjukkan bahwa konflik elite yang tidak dikelola dengan komunikasi yang sejuk sering kali berimbas langsung pada retaknya harmoni sosial. Ketegangan di tingkat atas dengan cepat merembes ke akar rumput, membentuk persepsi, memperkuat prasangka, dan pada akhirnya memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Atas dasar itu, Angkatan Muda Sulawesi Tenggara (Sultra) memandang penting agar setiap perbedaan pandangan diletakkan dalam bingkai kedewasaan berpolitik dan kearifan lokal. Sultra memiliki warisan nilai luhur seperti samaturu, gotong royong, dan musyawarah yang selama ini menjadi perekat sosial. Nilai-nilai tersebut semestinya menjadi fondasi dalam menyikapi perbedaan, bukan justru dikesampingkan oleh narasi yang saling menegasikan.
Dalam konteks ini, figur Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR) dan Eks Gubernur senior, H. Nur Alam, SE, M.Si.,bukanlah sosok yang lahir dari ruang hampa sejarah. Keduanya memiliki ikatan historis sebagai sahabat dan kolega yang pernah bersama-sama menjaga stabilitas daerah melalui Forkopimda Sultra. Relasi tersebut tidak hanya bersifat personal, tetapi juga simbolik, menjadi teladan bagi birokrasi dan masyarakat tentang bagaimana perbedaan dikelola secara beradab dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, ketika muncul narasi publik yang mengesankan adanya jarak atau ketegangan di antara elite, Angkatan Muda Sultra merasa perlu mengingatkan bahwa setiap perbedaan, sekecil apa pun, memiliki daya resonansi yang besar di tengah masyarakat. Dalam masyarakat Sultra yang plural dan sensitif terhadap figur kepemimpinan, perbedaan yang tidak diklarifikasi berpotensi melahirkan tafsir liar, spekulasi politik, bahkan fragmentasi sosial.
Kami tidak sedang menempatkan diri sebagai hakim yang menentukan siapa benar atau salah. Yang kami tekankan adalah pentingnya kesadaran etis para pemimpin bahwa setiap sikap, gestur, dan pernyataan memiliki makna politik. Diam yang terlalu panjang dapat ditafsirkan sebagai jarak, sementara komunikasi yang tertutup kerap melahirkan prasangka. Dalam situasi seperti ini, kesejukan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab moral seorang pemimpin.
Justru pada titik inilah kebesaran seorang pemimpin diuji. Bukan pada seberapa kuat ia mempertahankan posisi atau pandangan, melainkan pada seberapa arif ia menjaga persaudaraan demi kepentingan yang lebih besar. Sultra tidak membutuhkan drama elite, tetapi keteladanan kepemimpinan yang mampu meredam ketegangan, bukan memperuncing perbedaan.
Di sisi lain, tantangan daerah saat ini tidaklah ringan. Tekanan ekonomi, tuntutan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta harapan publik terhadap pemerintahan yang bersih dan efektif menuntut energi kolektif yang besar. Energi tersebut akan terbuang sia-sia apabila elite daerah terjebak dalam perbedaan yang sejatinya dapat diselesaikan melalui dialog terbuka dan saling menghormati.
Sebagai generasi muda, kami berharap ASR dan Nur Alam kembali menegaskan kepada publik bahwa persahabatan dan semangat kebersamaan jauh lebih penting daripada ego dan tafsir politik jangka pendek. Penegasan itu tidak harus hadir dalam bentuk pernyataan defensif, melainkan melalui sikap dewasa yang menenangkan. Kami percaya, keduanya memiliki kebesaran jiwa dan kedewasaan politik untuk menjaga marwah Sultra.
Perbedaan pandangan tidak harus berujung pada jarak emosional, apalagi konflik simbolik. Justru melalui dialog yang terbuka dan saling menghormati, daerah ini akan menemukan kekuatannya. Masyarakat Sultra belajar dari apa yang ditampilkan para pemimpinnya. Jika yang ditunjukkan adalah kesejukan, masyarakat akan tenang. Namun, jika yang dipertontonkan adalah ketegangan, maka potensi perpecahan menjadi tak terelakkan.
Di titik inilah kami berdiri, mengingatkan dengan hormat, mengkritik dengan elegan, dan berharap pada kebijaksanaan. Sebab pada akhirnya, persatuan elite merupakan prasyarat utama bagi persatuan rakyat, dan kesejukan para pemimpin adalah warisan paling berharga bagi masa depan Sulawesi Tenggara.
Editor : nuansasultra.com























